//
you're reading...
Uncategorized

PENDIDIKAN KARAKTER DI PAUD

PENDIDIKAN KARAKTER DI PAUD

MELALUI PENDIDIKAN HOLISTIK BERBASIS KARAKTER

Ratna Megawangi Ph.D[1]

 

PENDAHULUAN

Ada pepatah bahwa walaupun jumlah anak-anak haya 10% dari total jumlah penduduk, tetapi mempengarui 100% masa depan. Investasi untuk program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dianggap sangat penting, karena akan menentukan kualitas SDM di masa depan. Banyak studi menunjukkan bahwa investasi pada pendidikan anak usia dini memberikan return atau pengembalian hasil yang paling tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya.[1] Hal ini disebabkan karena masa pembentukan otak manusia terjadi paling cepat pada usia di bawah 7 tahun, dilain pihak biaya investasi untuk program Anak Usia Dini adalah paling murah dibandingkan dengan kelompok-kelompok umur lainnya.

PAUD dianggap penting karena membangun karakter yang paling efektif adalah pada usia sedini mungkin. Tim Utton berkata bahwa“At 3, you’re made for life” (Pada usia 3 tahun, kamu dibentuk untuk seumur hidup”). Ungkapan tersebut mengacu kepada sebuah studi yang dilakukan oleh University of Otago di New Zealand yang meneliti lebih dari 1000 anak-anak selama 23 tahun, dan terbukti bahwa sejak usia 3 tahun seorang anak sudah bisa diprediksi bagaimana karakternya kelak ketika dewasa.[2] Beberapa pakar lain berpendapat yang sama, seperti “ The child’s most crucial developmental stage is the first six years” ( Maria Montessori). “ Programs aimed at correcting wayward juvenile behaviour need to start with preschoolers ” (Yvonne Martin). Jadi, usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang.

Oleh karena itu alangkah tepatnya apabila pendidikan karakter di Indonesia dapat diintegrasikan dalam program PAUD yang gaungnya begitu nyaring terdengar di seluruh Indonesia. Sebetulnya sejak tahun 2003 program PAUD sudah diluncurkan oleh pemerintah, namun baru 3 tahun terakhir pertumbuhan program PAUD begitu cepatnya, sehingga jumlah PAUD yang dibuka sudah lebih dari 30,000 buah.[3]

 

Namun pertumbuhan jumlah PAUD yang pesat dalam kurun waktu singat ini perlu juga diwaspadai terutama dalam hal kualitasnya, apalagi jika pendirian PAUD hanya sekedar euforia masyarakat. Selain itu mengingat keterbatasan kaum wanita pengurus dan para guru PAUD yang sebagian besar ibu rumah tangga yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan PAUD sama sekali , maka muncul pertanyaan apakah mereka mampu mengelola PAUD secara professional dengan kualitas memadai.

Hal yang paling mengkhawatirkan adalah para guru PAUD yang belum mendapatkan training secara memadai, serta keterbatasan modul dan kurikulum yang berkualitas. Padahal, kualitas PAUD sangat penting sekali. Sebab, kalau kita salah mendidik anak-anak usia dini dampaknya akan sangat negatif. Karena seperti yang disinggung tadi, otak manusia yang tumbuh dibawah 7 tahun akan terbentuk dari proses pendidikan dan sosialisasi yang diperolehnya di sekolah, dan dampaknya akan terbawa sampai dewasa (permanen).

 

There is huge importance to quality because research has found that low-quality programs can actually hinder healthy child development and good future results, but high-quality programs support good future results (Head Start Report, 2002)  (Begitu pentingnya masalah kualitas karena hasil studi menunjukkan bahwa kualitas program yang rendah akan menghambat perkembangan anak dan keberhasilannya di masa depan, tetapi program yang mempunyai kualitas bagus akan mendukung perkembangan yang bagus).[4]

 

Artinya, PAUD yang tidak berkualitas justru dapat membahayakan perkembangan karakter anak, yang dampaknya bisa permanen. Banyak praktek cara mengajar yang salah dilakukan di PAUD dan TK yang dapat menghambat perkembangan karakter anak. Misalnya, dengan memaksa anak-anak TK untuk belajar membaca dan berhitung dengan cara yang tidak patut,dapat membuat anak merasa tidak mampu (minder/tidak percaya diri), dan mematahkan semangat anak untuk belajar, bahkan membenci sekolah sehingga sulit bagi mereka untuk berkembang menjadi pembelajar sejati (life-long learner). Juga ketika guru lebih memfokuskan pada hafalan dan pengisian LK, tanpa melibatkan pengalaman konkrit, dapat membunuh proses terbentuknya daya kritis dan kreativitas anak.

 

Berdasarkan kenyataan di atas, tulisan ini membahas beberapa praktek umum yang sering dilakukan di sekolah TK/PAUD yang dapat membahayakan perkembangan karakter anak. Selain itu, tulisan ini juga membahas tentang bagaimana model pendidikan karakter dapat secara efektif dijalankan di PAUD/TK, yaitu dengan mengacu pada pengalaman Indonesia Heritage Foundation (IHF)  yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak tahun 2000. IHF telah mengembangkan sebuah model ‘Pendidikan Holistik Berbasis Karakter” yang telah diterapkan lebih dari 1,600 sekolah Semai Benih Bangsa (baik PAUD maupun TK formal), dan terbukti telah berhasil menumbuhkan karakter anak, bahkan memperbaiki karakter guru-gurunya, dan para orang tua murid.[5]

 

Mengapa Karakter Harus Dibangun Sejak Usia Dini?

 

Menurut Montessori otak anak seperti “the absorbent mind”. Bahkan bayi yang berusia 2-3 minggu sudah mampu meniru mimic muka orang tua di sekitarnya. Masa-masa dimana anak cepat sekali meniru, maka memberikan pendidikan karakter sedini mungkin penting dilakukan. Ibaratnya, otak anak adalah seperti sponge. Sponge yang kering kalau dimasukkan ke dalam air akan cepat sekali menyerap air. Seandainya sponge itu diletakkan di air jernih, yang diserap juga air jernih. Jika diletakkan di air selokan, yang diserap juga air selokan. Inilah sebabnya, begitu efektifnya kita mengajar anak-anak usia dini tentang hal-hal yang baik. Pada masa-masa emas ini kita mencoba memberikan sebanyak mungkin air jernih (kebaikan) kepada anak agar dampaknya di dalam otak anak adalah kejernihan (yang baik-baik saja).

Hasil studi yang dilakukan Lawrence J. Schweinhart (1994) menunjukkan bahwa pengalaman anak-anak di masa TK dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan anak selanjutnya.[6] Oleh karena itu US Department of Health and Services (2001)[7] telah membuat sebuah pernyataan bahwa “kematangan sosial emosi anak usia dini adalah penentu keberhasilan anak di sekolah lanjutannya”, dan juga memberikan rekomendasi tentang kompetensi yang harus dicapai oleh anak-anak usia TK yang mencakup:

  • percaya diri (confidence)
  • rasa ingin tahu (curiosity)
  • Motivasi
  • kemampuan kontrol diri (self-control)
  • kemampuan bekerja sama (cooperation)
  • mudah bergaul dengan sesamanya
  • mampu berkonsentrasi
  • rasa empati,
  • kemampuan berkomunikasi.

 

Jika kita perhatikan rekomendasi di atas, tidak ada satu pun kompetensi yang berhubungan dengan aspek akademik, atau “calistung” (membaca, menulis, dan berhitung) yang diharapkan pada anak-anak usia TK. Seluruh dari rekomendasi tersebut adalah karakter. Karena memang mengajarkan “calistung” atau terlalu menekankan aspek akademis justru dapat membahayakan kesehatan emosi anak, atau perkembangan karakterternya dapat terganggu.

 

 

PRAKTEK-PRAKTEK UMUM PENGAJARAN DI PAUD YANG DAPAT MEMBAHAYAKAN PERKEMBANGAN KARAKTER ANAK

 

Orientasi “Calistung”

Banyak sekolah TK maupun PAUD yang lebih mementingkan kemampuan akademik (calistung) daripada pengembangan aspek emosi dan sosial anak. Hal ini tidak terlepas dari tuntutan orang tua, termasuk Sekolah Dasar yang mensyaratkan penerimaan siswa dengan melakukan test kemampuan calistung. David Elkind, seorang Professor pendidikan dari Tufts University berpendapat bahwa memaksakan anak usia dibawah 6 atau 7 tahun untuk belajar calistung akan beresiko timbulnya stress jangka pendek dan rusaknya perkembangan jiwa anak dalam jangka panjang; When we instruct children in academic subjects. . . at too early an age, we miseducate them; we put them at risk for short-term stress and long-term personality damage for no useful purpose. There is no evidence that such early instruction has lasting benefits, and considerable evidence that it can do lasting harm.”[8]

Menurut Elkind, anak yang digegas terlalu dini akan rusak kepercayaan dirinya, dapat menurunkan semangat alami belajar anak, serta menghambat pengembangan bakat anak, dan semuanya ini akan berdampak secara permanen. Elkind berkesimpulan: “If we do not wake up to the potential danger of these harmful practices, we may do serious damage to a large segment of the next generation.”[9]

 

Proses Belajar Pasif, Tidak Melibatkan Pengalaman Konkrit

Piaget mengatakan bahwa tahapan perkembangan kognitif anak usia 18 bulan sampai 7 tahun adalah tahap “Pre-operational Thinking”, yaitu kemampuan berpikir “concrete, here, and now”. Artinya, anak-anak usia dini tidak boleh diberikan materi yang abstrak atau tidak melibatkan pengalaman konkrit.[10]

Misalnya, guru sering menyuruh anak untuk menghafal abjad, atau menghitung sampai 100. Atau anak diminta untuk mengulang apa yang dikatakan guru (“membeo”). Cara ini memang bisa membuat anak cepat hafal, namun nateri yang dihafalkannya terlalu abstrak, sehingga anak tidak mengerti apa yang dipelajarinya. Selain itu, cara ini tidak melibatkan “pikiran, tangan, dan perasaan anak” secara simultan, sehingga anak belajar secara pasif.

Terkadang guru memperkenalkan konsep yang bukan “here and now”.. Misalnya, mengajarkan anak konsep “Hutan Tropis” terlebih dahulu, padahal seharusnya diajarkan tentang sesuatu di lingkungan terdekatnya (lingkungan rumah, sekolah). Setelah mengerti tentang lingkungannya, baru diperkenalkan konsep “Hutan Tropis”. Kecuali apabila lingkungan sekolah memang berada di wilayah hutan tropis. Proses belajar yang memberikan makna pada anak, akan membuat anak tertarik dan dan termotivasi untuk mengetahui materi lebih lanjut.

Cara menghafal, materi abstrak, dan pengisian LK adalah cara yang membosankan bagi anak. Hal ini berbahaya bagi perkembangan karakter anak, karena motivasi belajar anak akan menurun. Akibatnya sulit bagi anak untuk menjadi seorang pembelajar sejati.

Cara-cara terseabut juga tidak melibatkan peran aktif anak dalam diskusi, sehingga proses berpikir kritis dan analitis anak sulit untuk berkembang. Selain itu, cara belajar yang pasif ini, dimana anak tidak terlibat secara aktif baik fisik, verbal, maupun emosi, akan menghambat daya kreativitas anak.

 

Fokus Pada Pemberian Nilai dan Rapor, serta Komunikasi Negatif dan Kritikan

Banyak sekali guru yang masih memberikan nilai pada hasil kerja anak, memberikan rapor dengan nilai angka atau huruf, bahkan ranking. Padahal pada usia ini adalah periode yang sangat penting untuk tumbuhnya rasa percaya diri. Menurut Erik Erikson usia antara 3.5 tahun dan 6 tahun adalah usia untuk membangun sikap “Initiative vs. Guilt”,[11] yaitu sikap yang semangat untuk melakukan inisiatif, penuh ide, dan berimaginasi. Artinya, pada usia ini anak harus dapat berkreasi, berimaginasi, bereksperimen, berani mengambil resiko, dan berani untuk salah. Apabila gagal membentuk sikap inisiatif, maka yang berkembang adalah rasa bersalah, dan takut untuk mengambil inisiatif.

Namun sayangnya banyak guru yang sering mengkritik atau menilai hasil pekerjaan anak, bahkan memarahi anak ketika melakukan kesalahan. Padahal anak-anak mudah sekali stress ketika sedang dinilai pekerjaannya, apalagi dikritik dan dimarahi. Proses belajar yang seperti ini akan tidak menyenangkan, dan anak merasa terbebani. Pemberian nilai juga akan membuat anak takut untuk mengambil inisiatif untuk mencoba sesuatu, karena takut salah.

Sering pula guru menggunakan kata-kata yang negatif, mengkritik, berkata-kata kasar, dan bahkan menghukum anak dengan fisik (menjewer, dihukum di depan kelas). Atau guru yang sukamembanding2kan anak, atau melabel anak. Kalau pun anak melakukan sesuatu dengan benar dan baik, guru juga jarang memberikan pujian.

Cara-cara mengajar seperti ini akan menimbulkan efek negatif, yaitu anak akan takut mengambil resiko, dan lebih baik bersifat pasif daripada berbuat, tidak berani mencoba karena takut salah (guilt), dan akhirnya dapat meruntuhkan kepercayaan diri anak. Selain itu, karena anak tidak berani melakukan sesuatu yang baru, maka daya imaginasi dan inovasi anak sulit untuk berkembang.

Proses belajar yang tidak menyenangkan ini akan membuat anak merasa terbebani, dan selalu merasa terpaksa dalam melakukan pekerjaannya. Hal ini dapat menurunkan motivasi, dan akhirnya etos kerja.

 

Kelas Sunyi dan Proses Belajar Satu Arah

Banyak guru berpendapat bahwa kelas sunyi adalah kelas yg baik. Hal ini tidak benar, terutama untuk kelas TK/PAUD. Pada usia ini, anak perlu mengembangkan kemampuan verbalnya (sebagai fondasi kuat untuk kemampuan membaca dan menulis).

Selain itu banyak guru yang berperan sebagai “pengabar” kurikulum saja, tanpa dan anak menjadi pendengar pasif, atau disuruh meniru apa kata guru. Hal ini tidak dapat menstimulasi perkembangan nalar, dan proses berpikir yang lebih tinggi lagi.

Padahal menurut Vigotsky ada keterkaitan antara bahasa dan pikiran. Dengan aktif berbicara (diskusi) anak akan lebih mengerti konsep. Semakin sulit sebuah konsep yang dipelajari, semakin memerlukan keterlibatan verbal anak . Anak memerlukan interaksi verbal (diskusi dua arah) dalam proses belajar, sehingga suasana belajar menjadi lebih hidup dan menyenangkan, sehingga anak menjadi bersemangat.

Akibat negatif dari proses belajar satu arah, tidak melibatkan anak dalam berdiskusi adalah sebagai berikut:

  • Kemampuan verbal anak tidak berkembang àtidak berani bicara di depan umum
  • Tidak mampu mengekspresikan pemikirannya secara sistematis, baik secara verbal maupun tertulis
  • Kemampuan metakognisi (kemampuan untuk berpikir mandiri, berpikiri filosofis) tidak berkembang à tergantung pada guru, dan memerlukan terus dukungan à bukan seorang pembelajar sejati
  • Proses berpikir tinggi (logika, analisis, kritis) terhambat à berpikir dangkal, mudah percaya dengan isu-2

 

 

Duduk di Kelas Dalam Waktu yang Lama

Banyak guru yang menyuruh anak untuk duduk, mendengar, dan menulis dalam waktu yang lama di dalam kelas. Padahal secara hukum alam anak-anak usia TK dan SD akan lebih cepat lelah jika duduk diam dibandingkan kalau sedang berlari, melompat, atau bersepeda. Bermain adalah cara belajar yang alami bagi anak, sehingga apabila anak merasa bermain ketika belajar, maka ia akan melakukannya tanpa merasa bosan dan lelah.

Menurut Katz dan Chard anak perlu keterlibatan fisik ketika belajar untuk mencegah mereka dari kelelahan dan kebosanan. Dengan belajar yang aktif, motorik halus dan motorik kasar mereka akan berkembang dengan baik. Selain itu. dengan bergerak aliran oksigen ke otak akan lebih banyak, sehingga otak dapat berfungsi dengan lebih optimal. Katz dan Chard mengembangkan model pendidikan yang disebut Project-based Approach,[12] dimana proses belajar lebih banyak melibatkan seluruh dimensi anak (fisik, verbal, perasaan dan daya nalar). Misalnya, mengajak murid ke luar kelas untuk mengamati jenis-jenis pohon di sekitar sekolah, menyuruh mereka mengumpulkan jenis-jenis bentuk dan tulang daun, dan sebagainya.

Akibat negatif dari proses belajar yang lebih banyak duduk di dalam kelas adalah sbb:

  • Karena melanggar hukum alam, anak-2 tidak termotivasi untuk belajar à tidak ada motivasi/semangat untuk sekolah àsulit untuk menjadi pencinta belajar
  • Kemampuan motorik halus dan kasar tidak berkembang dengan optimal
  • Menghambat kemampuan akademis dan kreativitas

 

 

STRATEGI DAN IMPLEMENTASI  MODEL PAUD “SEMAI BENIH BANGSA” (INDONESIA HERITAGE FOUNDATION)”

Indonesia Heritage Foundation (IHF) adalah yayasan yang didirikan pada tahun 2000 yang bergerak dalam bidang Character Building (Pendidikan Karakter) yang diterapkan di Sekolah Karakter (TK/SD/SMP), dan TK non-formal Semai Benih Bangsa (SBB). Visi IHF “Membangun Bangsa Berkarakter” melalui pengkajian, pengembangan, dan pendidikan 9 pilar karakter. Pendekatan yang dilakukan bertujuan untuk mengoreksi praktik-praktik umum yang dilakukan di sekolah PAUD/TK seperti yang diuraikan sebelumnya. Maka, pendekatan model ini cukup komprehensift, karena yang ingin  dihasilkan adalah para siswa berkarakter mulia yang merupakan “habit of the mind” “habit of the heart”, dan “habit of the hands”.

Model ini disebut “Pendidikan Holistik Berbasis Karkater” (Character-based Holistic Education). Kurikulum yang digunakan adalah “Kurikulum Holistik Berbasis Karakter” (Character-based Integrated Curriculum), yaitu kurikulum terpadu yang “menyentuh” semua aspek kebutuhan anak, yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh dimensi manusia. Sesuai dengan prinsip pendidikan holistik, manusia yang berkarakter adalah manusia yang berkembang seluruh dimensinya secara utuh (holistik), sehingga manusia tersebut bisa disebut holy (suci dan bijak). Akar kata holy, adalah whole (menyeluruh), sehingga arti holy man adalah manusia yang berkembang secara utuh dan seimbang seluruh dimensinya (gambar 1).

Tujuan dari Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter adalah “Membangun manusia holistik/utuh (whole person) yang cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran emosional dan spiritual bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (the person within a whole)”.

Gambar 1.

 

Adapun 9 pilar karakter ini adalah nilai-nilai luhur universal yang terdiri dari:

  1. Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya
  2. Tanggung jawab, Kedisiplinan, dan Kemandirian
  3. Kejujuran
  4. Hormat dan Santun
  5. Kasih Sayang, Kepedulian, dan Kerjasama
  6. Percaya Diri, Kreatif, Kerja Keras, dan Pantang Menyerah
  7. Keadilan dan Kepemimpinan
  8. Baik dan Rendah Hati
  9. Toleransi, Cinta Damai, dan Persatuan

Metode penanaman 9 pilar karakter tersebut dilakukan secara eksplisit dan sistematis, yaitu dengan knowing the good, reasoning the good, feeling the good, dan acting the good ternyata telah berhasil membangun karakter anak.  Dengan knowing the good anak terbiasa berpikir hanya yang baik-baik saja. Reasoning the good juga perlu dilakukan supaya anak tahu mengapa dia harus berbuat baik. Misalnya kenapa anak harus jujur, apa akibatnya kalau anak jujur, dan sebagainya. Jadi anak tidak hanya menghafal kebaikan tetapi juga tahu alasannya. Dan juga dengan feeling the good, kita membangun perasaan anak akan kebaikan. Anak-anak diharapkan mencintai kebaikan. Lalu, dalam acting the good, anak mempraktekkan kebaikan. Jika anak terbiasa melakukan knowing, reasoning, feeling, dan acting the good lama kelamaan anak akan terbentuk karakternya.

Model ini membangun lingkungan secara total agar tercipta lingkungan yang kondusif untuk tumbuhnya siswa-siswa berkarakter (lihat gambar 2).  Kurikulum disusun berdasarkan prinsip keterkaitan antar materi pembelajaran, tidak terkotak-kotak dan dapat  merefleksikan dimensi, keterampilan, dengan menampilkan tema-tema yang menarik dan kontekstual.  Bidang-bidang pengembangan yang ada di TK dan mata pelajaran yang ada di SD dan SMP yang dikembangkan dalam konsep pendidikan kecakapan hidup yang terkait dengan pendidikan personal dan sosial, pengembangan berpikir/kognitif, pengembangan karakter dan pengembangan persepsi motorik juga dapat teranyam dengan baik apabila materi ajarnya dirancang melalui pembelajaran yang terpadu dan menyeluruh (Holistik).

Gambar 2.

Pembelajaran holistik terjadi apabila kurikulum dapat menampilkan tema yang mendorong terjadinya eksplorasi atau kejadian-kejadian secara autentik dan alamiah.  Dengan munculnya tema atau kejadian yang alami ini akan terjadi suatu proses pembelajaran yang bermakna dan materi yang dirancang akan saling terkait dengan berbagai bidang pengembangan yang ada dalam kurikulum.

Dalam penerapan Model Pendidikan Holsitik Berbasis karkater yang diterapkan di TK Karakter dan SBB, ada 9 pilar karakter yang diajarkan secara terus menerus serta dalam lingkungan yang kondusif sehingga nilai-nilai karakter ini dapat tumbuh. Nilai-nilai inilah yang kita ajarkan di sekolah supaya otak anak terbiasa dengan hal-hal yang baik. Sehingga, dendrit-dendrit atau synap-synap yang tumbuh di otak hanya menyimpan memori-memori yang baik. Kalau di rumah anak tidak diajarkan, paling tidak di sekolah dia mendapatkan nilai-nilai karakter supaya di dalam otak anak ada memori kebaikan sehingga nantinya dia bisa melakukan kebaikan. Kalau nilai-nilai ini tidak pernah diajarkan, kita tidak bisa mengharapkan anak bisa berperilaku sesuai dengan nilai-nilai akhlak. Jadi, cara mengajarkan kebaikan seperti yang selama ini kita lakukan dalam pelajaran agama, yang hanya hafalan, tidak akan berhasil. Contoh nyata, banyak orang hafal kebersihan adalah sebagian dari iman. Kita tahu, kita hafal, tapi sampah ada di mana-mana. Kita tahu tapi mengapa kita tidak melakukan? Karena kita salah dalam cara mengajarkan nilai tersebut.

Kunci keberhasilan penerapan model ini adalah kemampuan guru, maka para guru wajib mengikuti training selama 15 hari, karena dengan training ini guru dipersiapkan untuk mempunyai paradigma, sense of mission, dan spirit membara untuk menjadi guru yang berkarakter. Untuk menyiapkan guru yang kompeten, maka guru perlu dibekali seperangkat teori yang praktis, terutama bagaimana mengalirkannya di dalam kelas, Selain kondisi yang menyenangkan, para guru harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan cara mengajar. PAUD Semai Benih Bangsa menerapkan metode-metode pendidikan yang kita perlukan, misalnya Brain-based Learning, Contextual Learning, Cooperative Learning, Inquiry-based Learning, Developmentally Appropriate Practices, dsb, dimana para gurunya dibekali training untuk menguasai metode-metode tersebut secara praktis. IHF telah memberikan training kepada guru-guru di lebih dari 1600 PAUD dan TK, dimana materi diberikan adalah standar seperti yang diuraikan sbb:

 

1. Teori tentang Pentingnya Pendidikan Karakter

2. Teori dan Implementasi Pendidikan 9 Pilar Karakter secara eksplisit; knowing the good,        reasoning the good, feeling the good, and acting the good.

3. Prinsip dan penerapan Brain-based Learning

4. Penerapan Developmentally Appropriate Practices (DAP)

5. Penerapan Multiple Intelligences

6. Prinsip dan Penerapan Character-based Integrated Learning

7. Prinsip dan Penerapan Cooperative Learning

8. Komunikasi Positif dan Efektif

9. Prinsip dan Penerapan Student Active Learning, Contextual Learning, dan Project-based Learning

10. Delapan Prinsip Belajar Membaca Menyenangkan (whole language, Environmental Prints, etc).

11.Prinsip dan Penerapan Inquiry-based Learning

12. Fun Story Telling

13. Manajemen Kelas

14. Penerapan sistem Sentra (ada 7 sentra)

15. Character-based Co-Parenting.

16. Training Motivasi

 

Selain training yang diberikan, para guru juga harus dibekali alat bantu mengajar, seperti modul, kurikulum, lesson plan, permainan edukatif, dan buku-buku cerita. Tanpa alat bantu ini, akan sulit bagi guru untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya. Ada pun alat bantu mengajar yang disediakan oleh IHF adalah:

 

1. Modul 9 Pilar Karakter (2 tahun pembelajaran)

2. Daily Lesson Plan untuk 9 Pilar Karakter (2 tahun)

3. Modul KTSP Pendidikan Holistik Berbasis Karakter berdasarkan Tema

4. Daily Lesson Plan untuk Pembelajaran Sentra (2 tahun)

5. Paket Buku 9 Pilar Karakter untuk aktivitas murid (10 buku)

6. Buku-buku cerita membentuk 9 Pilar Karakter (125 buku)

7. Buku-buku text Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

8. Paket Perlengkapan Sentra dan Permainan Edukatif (70 jenis)

9. Paket lagu-lagu 9 Pilar Karakter (60 lagu)

10. Paket CD Pembentukan Moral

 

Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter ternyata berhasil untuk membentuk karakter siswa. Berbagai laporan anecdotal, maupun laporan penelitian ilmiah yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa baik tingkat S1 maupun S3 telah membuktikan keberhasilan model ini dalam membentuk karakter. Misalnya, sebuah Tesis Doktoral yang ditulis oleh Dwi Hastuti Martianto (2006) dari Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (total sampel: 356 anak) yang melihat dampak program pra-sekolah SBB –Semai Benih Bangsa (menerapkan Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter) terhadap beberapa ukuran tumbuh kembang anak menunjukkan hasil yang menggembirakan.  Sebagaimana ditunjukkan dalam grafik (gambar 4), anak-anak yang mengikuti program SBB secara konsisten menunjukkan hasil yang lebih baik daripada mereka yang mengikuti program Taman Kanak-Kanak umum (TK) dan mereka yang tidak memiliki pengalaman pra sekolah sama sekali (non-TK). Ada 12 aspek perkembangan anak lainnya yang tidak dicantumkan dalam tulisan ini yang menunjukan hal yang sama.[13]

Penelitian ini memberikan bukti yang kuat, bahwa model “Pendidikan Holistik Berbasis Karakter” dapat memberikan hasil positif dalam berbagai aspek kecerdasan anak dan pengembangan karakter. Tentunya, ini memberikan harapan bahwa institusi sekolah dapat menjadi wahana yang cukup penting untuk menyiapkan anak-anak yang berkarakter.

 

 

Gambar 4.

SKOR RENDAH HATI & BAIK HATI

 

SKOR AMANAH & KEJUJURAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

 

Banyaknya jumlah PAUD yang menjamur di Indonesia belum tentu sebuah keberhasilan, bahkan bisa menjadi bencana nasional, apabila kualitas PAUD tidak diperhatikan. PAUD yang tidak berkualitas, di mana para pengelola dan guru-gurunya tidak menguasai berbagai teori dan aplikasi ilmu penddidikan, akan sangat berbahaya bagi perkembangan karakter anak, dan dampaknya bisa permanen dan terbawa sampai dewasa.

Hal ini dapat membahayakan nasib bangsa di masa depan, karena kualitas karakter sebuah bangsa sangat menentukan kejayaan sebuah bangsa. Apalagi hampir seluruh PAUD yang ada di Indonesia diperuntukan bagi anak-anak yang kurang mampu, di mana segmen masyarakat yang tidak mampu adalah yang terbesar jumlahnya. Apabila hal ini tidak diperhatikan, akan berakibat negatif pada pembentukan SDM yang berkualitas di masa depan, sehingga akan sulit bagi negeri tercinta ini untuk mengejar ketertinggalannya dari Negara-negara tetangga kita.

Pengalaman Indonesia Heritage Foundation yang hampir 10 tahun di dalam pelaksanaan pendidikan karakter di PAUD/TK, juga di tingkat SD dan SMP, bisa menjadi contoh untuk sekolah lainnya yang ingin menerapkan pendidikan karakter dengan benar. IHF terbuka bagi siapa saja yang ingin menerapkan model “Pendidikan Holistik Berbasis Karakter”, atau ingin observasi ke Sekolah Karakter.

Bagi yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut model pendidikan ini dapat membuka website IHF di www.ihf-sbb.org, dan bagi sekolah yang ingin menerapkan model ini atau melakukan observasi, dapat menghubungi kantor IHF 0218712022, atau kirim email ke ihf_karakter@yahoo.com

 

DAFTAR PUSTAKA


[1] Ratna Megawangi PhD. Adalah dosen di Departement Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Juga sebagai Pendiri Indonesia Heritage Foundation – IHF  (tahun 2000), sebuah yayasan yang mempunyai visi “Membangun Bangsa Berkarakter”, dan telah mengembangkan model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter. Model ini telah diterapkan di lebih dari 1600 sekolah Semai Benih Bangsa (PAUD/TK nonformal) dan beberapa TK formal lainnya. Kegiatan IHF dapat dilihat di http://www.ihf.or.id


[1] Heckman, James & Pedro Carneiro, 2003. “Human Capital Policy,” NBER Working Papers 9495, National Bureau of Economic Research, Inc.

[2] http://www.ourcivilisation.com/decline/chldhd.htm, juga dapat diakses langsung dari University of Otago, Dunedin, New Zealand, di http://healthsci.otago.ac.nz/division/medicine/news/topics/dmdh.html

[3] Direktrorat PAUD. (200&0. Pedoman Pusat unggulan Pendidikan Anak Usia Dini Tingkat

Kabupaten/Kota dan Provinsi Jakarta: Direktorat PAUD.

[4] Head Start Report (2002).

[5] Berdasarkan penelitian Doktor Dwi Hastuti (2006), Fakultas Ekologi Manusia, IPB, dan penelitian ExxonMobil di Aceh Utara tentang keberhasilan program Semai Benih Bangsa (2007). Lihat http://www.ihf.or.id/en/effectivity.asp

[6] Lawrence J. Schweinhart, Significant Benefits: The High/Scope Perry Preschool Study through Age 27 (Ypsilante, Mich.: High/Scope Press, 1993).

[7] Chicago Tribune, Sept. 6/00, dalam www.chicagotribune.com

[8] David Elkind, Miseducation: Preschoolers at Risk

(1987; New York: Knopf, 1997),p. 34-35

[9] David Elkind, Miseducation: Preschoolers at Risk(1987; New York: Knopf, 1997),

[10] Seluruh teori tentang DAP bisa dilihat pada Ratna Megawangi, et.al.(2004) , “Pendidikan yang Patut dan Menyenangkan: Penerapan Teori Developmentally Appropriate Practices (DAP). Indonesia Heritage Foundation

[11] Ibid.

[12]  Dapat dilihat di http://projectapproach.org

 

[13] Dwi Hastuti (2006). Analisa Pengaruh Model Pendidikan Prasekolah Pada Pembentukan Anak Sehat, Cerdas dan Berkarakter”. Disertasi Doktor. Bogor: Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

 

 

 

 

          Daftar Materi Pelatihan Guru TK/PAUD

       Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

          INDONESIA HERITAGE FOUNDATION

No

Materi Pelatihan

Jumlah Jam

(1 jam = 60 menit)

TEORI & KONSEP

33 jam

1

Membangun Karakter Anak Melalui Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

4.3O

2

Tahap Perkembangan Moral Anak dan Strategi Menghadapi Perilaku Anak

2.3O

3

Penerapan Developmentally Appropriate Practices (DAP)

2

4

Konsep Diri Sebagai Guru Berkarakter

2.3O

5

Manajemen Kelas dan Disiplin Positif

2.3O

6

Komunikasi Efektif dalam Membentuk Karakter

2

7

Teknik Mengalirkan Karakter di Kelas dan Teknik Membuat Pertanyaan dan Pemodelan Pilar 2 (Kemandirian, Disiplin, Tanggung Jawab, dst.)

2.3O

8

Penanganan Anak dengan Kebutuhan Khusus dan Aplikasinya

2

9

Penerapan Prinsip-prinsip  Brain Based Learning (BBL), Student Active Learning dan Multiple Intelligence dalam Tema & Sistem Sentra.

3

 -Sentra Persiapan (Pengenalan Membaca dan Berhitung dengan Cara yang Patut)
 – Sentra Imajinasi (Drama)
 – Sentra Rancang Bangun (Balok)
 -Sentra Seni Kreasi
 – Sentra Eksplorasi
 – Sentra Ibadah
 -Sentra Memasak (Cooking)
 – Sentra Kebun dan Ternak
 -Sentra Komputer (jika memungkinkan)

10

Penjelasan Manfaat Alat Permainan Edukatif (APE) dan Cara Penggunaannya.

2

11

Sistem Evaluasi Pendidikan Holistik Berbasis Karakter dan Portofolio

2

12

Teknik Pelaksanaan PAUD/TK SBB (Kemandirian Sekolah serta Partisipasi Orang tua dan Masyarakat)

2

13

Teknik Penyusunan Kurikulum Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (Chracter-based Integrated Learning)

2

14

Sistem Administrasi & Keuangan Sekolah

2

PRAKTEK & KETERAMPILAN

45

15

Praktek Pendidikan Pilar Karakter (Metode Knowing, Reasoning, Feeling, and Acting) untuk  :

2.3O

-  Pilar 1 (Cinta Tuhan dan Segenap Ciptaan-Nya)
-  Pilar 3 (Kejujuran, Amanah dan Diplomatis)
-  Pilar 4 (Hormat dan Santun)

16

Praktek Pendidikan Pilar Karakter (Metode Knowing, Reasoning, Feeling, and Acting) untuk  :

-  Pilar 5 (Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong)

-  Pilar 6 (Percaya diri, Kreatif dan Pekerja Keras)

- Pilar 7 (Kepemimpinan dan Keadilan)

2.3O

17

Praktek Pendidikan Pilar Karakter (Metode Knowing, Reasoning, Feeling, and Acting) untuk :             ,

2.3O

-  Pilar 8  (Baik dan Rendah Hati)
-  Pilar 9 (Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan)
 –  K4 (Kebersihan, kerapian, Kesehatan dan Keamanan)

18

Praktek Pembelajaran Holistik Berbasis Karakter (Berdasarkan Prinsip-prinsip Contextual Learning, Inquiry Based Learning, Cooperative Learning )

2.3O

19

Whole Language Berbasis Karakter & Aplikasinya

2.3O

20

Praktek Kegiatan Sentra Eksplorasi & Cooking Sesuai Tema

2

21

Praktek Kegiatan Sentra Persiapan dan Imajinasi Sesuai Tema

2.3O

22

Olah Tubuh dan Teknik Bercerita yang Membangun Karakter

6

23

Origami dan Display Kelas

3

24

Kreativitas dalam Membuat Media Belajar

3

25

Senam Anak (3 session)

3

26

Gerak dan Lagu

2.5

27

Teknik Pengisian Rapor

2

28

Outbond

3

29

Training Motivasi Menjadi Guru Berkarakter

3.5

30

Guru Berkarakter Sebagai Agent of Change

2

OBSERVASI & MAGANG

27 jam

31

Observasi Penerapan Pembelajaran Holistik Berbasis Karakter

5

32

Praktek Magang Penerapan Pendidikan Holistik Berbasis Karakter di PAUD/TK SBB

15

33

Praktek Origami dan Display Kelas

5

34

Praktek Pengisian Rapor

2

TOTAL

105 Jam

 

About nagaripetualang

if you want for known to me. you would can that i am is people with ..............

Diskusi

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: